An Open Book
just another point of view.
Tuesday, September 15, 2015
?
yang sudah bertahun-tahun lalu, namun selalu terasa bagai kemarin.
segala sesuatu terjadi dengan mudahnya; kita tertawa bersama, selalu ada untuk satu sama lain, dan aku, yang lambat laun menyukaimu. atau justru, jatuh cinta padamu.
aku, tidak akan pernah tahu apakah kamu mengetahui perasaanku selama ini. dan aku, tidak akan pernah mengetahui bagaimana perasaanmu terhadapku. apa kita berdua pernah merasakan hal yang sama?
tidak akan pernah ada jawaban atas pertanyaan itu. aku tahu dan sangat mengerti. karena semua yang terjadi di antara kita tidak pernah terucap. segala jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang pernah aku ajukan pada ruang, tidak akan pernah sampai padaku. mereka terbang bebas di udara, berbaur tanpa batas dengan alam semesta. biarlah, biarlah hanya Tuhan yang tahu jawabannya.
namun, perasaan yang tidak terucap sangatlah menyiksa. betapa sulitnya menahan diri untuk tidak meneriakkan rindu padamu. betapa penatnya ketika pikiranku mempertanyakan pikiranmu tentangku. menahan rasa, memaksa logika untuk bekerja. tidak seharusnya semua dihancurkan dengan rasa yang mungkin maya. tidak semua dapat diungkapkan dengan kata-kata. tidak semua yang kita ingin dapat kita miliki...
apa yang terjadi di antara kita?
skeptis
mengapa kita harus belajar merelakan?
tidak adakah pertemuan sekali seumur hidup untuk selamanya?
people come and go, they said. tapi hanya cinta sejati yang bertahan. begitu katanya.
entah itu belahan jiwa, keluarga, atau sahabat.
akankah lebih baik jika mereka yang tidak akan bertahan tidak pernah bertemu denganmu?
berapa banyak orang yang telah kamu kenal selama hidup? apakah sekarang mereka masih menjadi bagian dari hidupmu? atau justru sudah menjadi masa lalu yang utuh?
mengapa kita mencintai orang yang tidak bisa kita miliki?
mengapa kita menyayangi sahabat yang ternyata pergi meninggalkan kita?
mengapa kita bersama orang-orang tercinta yang akhirnya pergi begitu saja?
apakah dalam hidup, kita selalu diajari untuk mengalami perih?
apa semua manusia harus belajar merelakan?
akankah ketika kita tidak mengenal patah hati, hidup akan lebih berarti?
apakah ketika kita mengerti rasanya disakiti, hidup akan menjadi lebih baik?
apakah memiliki semua yang ada di kehidupan kita, selalu menghadirkan gelak tawa?
mengapa kita harus merasakan kehilangan?
Sunday, September 13, 2015
ketika
Friday, July 10, 2015
kesempatan
kadang aku merasa kesempatan layaknya menyeberang jalan di Jakarta.
kamu bisa memanfaatkan celah untuk segera menyeberang, tanpa harus menunggu lama. namun jika kamu ragu untuk menyebrang dalam kesempatan itu, maka kamu harus menunggu kesempatan lainnya.
karena aku percaya, kesempatan sebenarnya selalu ada. ia datang silih berganti. namun masalahnya, mampukah kita melihat kesempatan itu?
layaknya menyeberang jalan, kadang kamu melewatkan celah yang harusnya bisa kamu lalui. kadang kamu melihat kesempatan itu ada, namun kamu tak mengambilnya. kemudian datanglah penyesalan mengapa kita tak memanfaatkan kesempatan pertama. juga karena harus menunggu kesempatan lain datang. tak jarang juga kita akhirnya menunggu hingga jalanan lebih sepi, dan akhirnya menyeberang; setelah menunggu cukup lama. akhirnya, kesempatan yang kita ambil tidak akan terasa seistimewa kesempatan awal.
kesempatan itu selalu ada. namun, apakah kita selalu dapat melihat dan memanfaatkannya?
salam dini hari,
wanita yang sedang menunggu kantuk datang.
Wednesday, June 24, 2015
living in the judgments.
here I'm gonna talk about negative judgments. I should say that we normally consider there are two types of judgment: the real one or the unreal one. both of them can drown us to the deepest level of desperation sea, though. why the real judgment also can kick us to another fucked up corner? why is that?
some people (including me) sometimes aren't ready to face the truth that we have never seen before. the truth is, people see their selves as what they believe. this thought make us believe that we are already be the greatest so far, and we also believe that we're on the best way. but when some people suddenly say the things about us that we had not have realized before (and they are judgments in a bad term), there is when we slowly sinking to the bottom of the sea.
but that is the worst case, for some people with a better truth acceptance, they will take those bad points as the materials that can build them to be higher tower than before in the stunning way.
then, how about those unreal-bad judgments? will it drive us to the hell valley or will it make us be a stronger person?
the answer is still the same. if we are the weak and overthinking persons, sure we will be buried under those judgments, perhaps until we lost our breath. or maybe we are just too lazy to deny it all, and then we just go with the flow. the flow that brings us to another hell sea that has no ends. otherwise, if we are tougher persons that we will be careless about those unimportant things.
but wait, finally, the end is also about 'are those bad judgments real?' . then, who is the person that really knows whether those bad judgments right or wrong?
of course, it's us. actually we already know what the truth is but our ego deny it too much. so, we are pathetic persons who always live in the middle of judgments, aren't we?
Monday, June 8, 2015
jatuh cinta diam diam
terkadang aku berpikir patah hati karena berakhirnya sebuah hubungan mungkin tak seperih ketika kita menyembunyikan perasaan terhadap seseorang
jika saat berpacaran kau sempat mengungkapkan bagaimana rasa sayangmu terhadap orang tersebut, maka berbeda dengan sebagian orang yang pada akhirnya harus menahan apa yang ia rasakan
mereka yang hanya bisa mengamati pujaan hatinya diam diam. kalian yang mendoakan sang pujaan hati secara tulus, tanpa banyak berharap. kita yang sejatinya memperhatikan setiap gerak geriknya, yang bahagia setiap melihatnya tersenyum, yang memandang mereka dari kejauhan. tanpa bisa berkata yang sebenarnya, tanpa bisa berbuat yang apa yang sesungguhnya ingin dilakukan
apapun penyebabnya, jatuh cinta diam diam pada akhirnya menyakitkan
bisa saja rasa suka seperti itu akan tersimpan selamanya tanpa pernah terungkap
terkunci rapat dan mungkin membusuk seiring waktu
atau ternyata tetap bertahan meski sering terabaikan
memberi sedikit ruang untuk harapan yang tak kunjung terwujud
menjadi kisah sendu untuk diceritakan
menjadi rahasia manis untuk dikenang sendiri
menghadirkan kenangan yang bahkan sebenarnya tak pernah dilewati dengan nyata
namun pada akhirnya, memberikan warna tersendiri dalam rumitnya kehidupan
bertahan
akan ada banyak tawaran di luar sana yang terlihat lebih membahagiakan
seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau
benarkah?
atau memang kita sendiri yang membuat rumput di pekarangan kita layu?
sudahkah kau sirami setiap hari? dan bila tak juga tumbuh dan subur, sudahkah kau beri pupuk?
atau kita lupa rasanya menanami tanah yang gundul itu dengan bibit, menanti akarnya tumbuh, hingga daunnya yang hijau merambat entah ke mana
mungkin yang perlu kita lakukan adalah melihat ke belakang dan meresapi bagaimana kita bisa tiba di titik ini
menghargai usaha yang telah kita tempuh selama ini. mengingat bagaimana kita menghabiskan waktu untuk menunggu rumput hijau muncul di permukaan
maka, sulitkah untuk bertahan pada pilihan?