Saturday, June 7, 2014

hati-hati saat menonton tivi!

halo, warga Indonesia. sudah siap memilih calon presiden dan wakil presiden 9 Juli nanti?

saya tidak akan membicarakan mengenai Pilpres nanti. kali ini saya tertarik untuk berkomentar mengenai bagaimana media memberitakan capres dan cawapres jagoan masing-masing. atau, lebih tepatnya adalah capres dan cawapres jagoan para pemilik media yang juga pimpinan tertinggi partai yang telah memutuskan untuk berkoalisi dengan pasangan capres cawapres di porosnya masing-masing. hanya ada dua pasangan capres cawapres kali ini, dan persaingan kampanye mereka sangat hebat. persaingan kinerja? wah, saya belum mengomentari hal itu dulu, ya :)

saya adalah salah satu orang yang terbiasa menyalakan televisi di waktu senggang, terlepas dari saya memperhatikan siarannya atau tidak, hehe. namun sedikit tidaknya saya menangkap hal-hal apa yang menjadi sorotan televisi di periode tertentu.
dalam menonton siaran berita, saya cenderung pilih-pilih. maksudnya, kalau menurut saya cara pemberitaan di suatu saluran televisi sudah terkenal buruk, saya tidak akan menonton saluran tersebut. jadi, saya cenderung menonton satu atau dua saluran televisi saja setiap harinya. yah bisa dibilang informasi yang saya terima pasti cenderung mengarah ke sisi politik tertentu.

beberapa minggu kemarin media ribut membicarakan partai-partai yang mengikuti pemilu sudah menjatuhkan pilihan di poros yang dipimpin oleh partai yang identik dengan warna merah, dan satu lagi partai yang mengambil lambang burung gagah perkasa sebagai simbol partainya. waktu zaman pemilu, saluran televisi yang saya tonton - identik dengan partai warna oranye biru - pemberitaannya masih tampak biasa saja. saluran ini memang kerap memunculkan nama partainya dalam iklan atau segmen berita tertentu. tapi, mari kita lihat saat pemilik media ini sudah menetapkan koalisi dengan capres cawapres - yang kalian pasti tahu mereka siapa. pemberitaan dan iklannya..... menurut saya sangat, sangat dan sangat berat sebelah.

jujur saya jadi agak sebal menonton saluran televisi yang satu ini. bukannya bagaimana, pertama, dari segi kuantitas, isinya hanya capres cawapres tertentu. bosan juga, kan? maksud hati ingin menonton berita - karena saluran ini adalah saluran televisi  yang identik dengan berita - sehari-hari, eh isinya tokoh yang sama terus menerus. setiap hari, setiap sesi pemberitaan, bahkan hampir di setiap berita - yang kini diselingi dengan naiknya harga bahan pokok - hanya menampilkan capres cawapres yang sama. ingin mengeluh, tapi apa ada gunanya? berita seperti itu akan tetap berkoar-koar sampai Pilpres nanti, dan mungkin jika capres cawapres tersebut menang, bisa berbulan-bulan namanya pemberitaan mengenai mereka mengudara.

yang kedua adalah isi pemberitaannya. sangat sangat berat sebelah. duh, media kok seperti ini, saya membatin. secara pribadi, saya menyukai media ini karena jurnalistiknya baik, setidaknya ia tidak seperti tetangga sebelahnya. tapi framing berita mereka kali ini terkesan gamblang dan 'kurang ajar', kalau menurut saya (mengingat bagaimana seharusnya media memberitakan suatu peristiwa). tampilkan segala hal yang baik mengenai capres cawapres idola. selipkan sedikit berita mengenai lawannya, dan itupun kerap diwakili oleh berita buruk sang lawan.

saya sampai bingung bagaimana membahasakannya karena terlalu banyak yang ingin saya komentari. lihat saja dari judul beritanya, 'Presiden pilihan kita', namun sosok yang ditampilkan adalah capres tertentu saja. headline-headline lain juga serupa. kutipan wawancara yang ditayangkan adalah komentar orang-orang yang mendukung pasangan tersebut. data-data survei yang diangkat adalah data yang mendukung posisi dan nama baik salah satu calon pasangan pemimpin bangsa. mereka yang tidak mempelajari politik media atau politik pemberitaan pun bisa melihat dan mengerti permasalahan ini. memahami bahwa politik media yang dimainkan tahun ini sudah gila-gilaan. kalau begini, orang-orang yang kurang memahami politik media dan belum menentukan pilihan, mungkin saja terpengaruh oleh pemberitaan yang baik semata mengenai capres cawapres tertentu. padahal, sebagai pemilih nanti, kita seharusnya tahu kekurangan dari masing-masing pasangan ini.

mau menonton saluran saingan saluran tivi di atas? duh, malas. sepertinya sama saja. toh sama-sama dikuasai pemimpin parpol. yah saya belum menonton sih, tapi dugaan saya kalaupun menonton malah nanti jadi ingin memaki. sudah jurnalistiknya banyak diragukan, ditambah lagi bumbu-bumbu politik yang dimasukkan. begitu juga media-media lain yang dikuasai parpol. intinya, mereka berkoar-koar mendukung pasangan capres cawapres yang mereka koalisikan.

sedih, tapi apa mau dikata. media itu besar sekali kekuatannya dalam membentuk agenda publik. ya sudahlah, kalau ingin menonton lebih baik cari stasiun televisi yang tidak berdiri di bawah bendera parpol tertentu. tolong diingat, saya bukannya tidak suka dengan satu atau semua capres cawapres periode ini, saya hanya tidak suka bagaimana media terlalu menggembargembokan capres cawapres koalisi partai mereka. sudah framingnya kasar (terlalu menunjukkan dukungan) kuantitasnya berlebihan lagi.

seorang teman pernah menyebutkan kalau bekerja di media, kita cenderung tidak berkembang. menurut saya itu mungkin saja terjadi, kalau kita bekerja di media yang dikuasai parpol. kalau medianya netral-netral saja sih, tidak masalah. bisa memberitakan sisi kanan dan kiri secara seimbang.

jadi teman-teman, kalau menonton berita jangan ditelan mentah-mentah ya. tapi saya yakin teman-teman sudah paham betul akan kondisi media saat ini. semoga tulisan saya bisa jadi pengingat untuk terus berhati-hati dalam mencerna serangan informasi (tidak seimbang) yang bertubi-tubi ini ;)