- Halo, sudah lama tidak menulis di blog lagi. Well, kali ini aku tertarik untuk berbicara mengenai masalah lingkungan.
- *
- Aku mengakui bahwa aku bukan orang yang gaya hidupnya sepenuhnya mengikuti gaya hidup ramah lingkungan. Aku tetap mengendarai sepeda motor ke sekolah. Tidak dapat menggunakan kendaraan umum karena tidak ada jalurnya dari sekolah ke rumahku. Tetapi aku berusaha untuk turun tangan, dengan cara yang sederhana. Aku selalu mematikan lampu di saat tidak membutuhkannya, menggunakan kembali (reuse) kertas yang salah satu sisinya masih kosong, ataupun yang terisi sepenuhnya. Dulu, aku sering membuat kotak surat dari bekas kotak susu. Kantong-kantong plastik yang aku peroleh selepas belanja aku simpan baik-baik, dan menggunakannya saat diperlukan kembali, sehingga penggunaan plastik bisa diminimalisir. Membiasakan diri untuk menutup keran air saat tidka menggunakannya. Kebiasaan ini masih kulakukan hingga kini. Aku selalu mencabut charger gadgetku dari terminal listrik ketika sudah selesai menggunakannya. Banyak orang yang membiarkan chargernya terpasang dan menganggap hal ini tidak menghabiskan energi. Tetapi bagiku, tidak ada salahnya mencabutnya karena tindakan ini akan mengurangi pemakaian energi listrik, meskipun tidak terlalu signifikan. Entah mengapa, menurutku pemanasan global mulai dipandang sebelah mata oleh banyak orang.
- By the way, aku sering sebal melihat orang yang membuang sampah sembarangan, utamanya di jalan. Banyak orang yang mengendarai mobil tetapi membuang sampahnya sembarangan di jalan. Ada juga orang-orang yang terbiasa untuk melemparkan sampah di sekitar mereka. Padahal, apa susahnya menyimpan sampah tersebut sampai menemukan tempat sampah terdekat? Aku merasa beruntung orang tuaku membiasakan aku dan adik-adikku untuk membuang sampah pada tempatnya. Kami juga mulai membiasakan untuk memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Hal yang nampaknya remeh, namun membawa dampak besar bagi lingkungan. Aku melihat orang-orang di sekitarku masih terbiasa membuang sampah di selokan. Alhasil, saat hujan deras, selokan pun mampet dan menyebabkan banjir lalu mereka mengeluh. Ini membuatku berpikir. Mungkin manusia memang tidak bisa menerima hasil perbuatannya sendiri; selalu ingin melimpahkan kesalahan kepada pihak lain.
- Sementara, pemerintah belum tegas dalam menangani masalah sampah dan lingkungan. Tidak ada larangan tegas untuk membuang sampah pada tempatnya, umumnya di tempat-tempat seperti desa, yang masyarakatnya masih terbiasa membuang sampah di selokan atau sungai terdekat. Siapa sih yang sekarang memperhatikan masalah lingkungan secara serius? – mungkin begitu pikirnya. Tapi lihat apa yang dikeluhkan warga Jakarta saat hujan deras menghadang? Banjir, itu juga masalah lingkungan. Bagaimana dengan kabut asap yang terjadi di Riau dan mengganggu aktivitas warga di sana? Itu juga masalah lingkungan. Seakan-akan lingkungan baru diperhatikan ketika masalah sudah terjadi. Pencegahan yang sangat minim terhadap masalah lingkungan dapat menimbulkan masalah yang sangat besar.
- *
- Aku mulai mengenal WWF sejak di bangku kuliah. Awalnya berawal dari rasa keprihatinanku terhadap hewan-hewan yang nyaris punah karena kurangnya lahan hijau yang merupakan tempat tinggal mereka dan juga akibat perburuan liar. Kemudian aku mengetahui bahwa WWF tidak hanya memperhatikan kesejahteraan hewan, namun juga masalah lingkungan. Dua hal ini memupuk rasa kekaguman dan keingintahuanku terhadap WWF. Aku selalu berpikir bagaimana caranya ikut berkontribusi dengan WWF dalam memperhatikan masalah hewan dan lingkungan. Sampai akhirnya, aku mendapat kesempatan tersebut.
![]() |
| Penanaman bibit pohon bersama WWF, Dinas Kehutanan dan warga Sumber: dokumen penulis |
- Kebetulan aku dan teman-temanku sedang survei untuk keperluan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Tetebatu, Lombok Timur. Kepala Desa mengajak kami untuk mengikuti acara yang diselenggarakan WWF dan Dinas Kehutanan yang bertajuk “New Trees” di kaki Gunung Rinjani. Bersama-sama, kami menanam banyak bibit pohon meskipun hujan turun dengan derasnya. Sangat menyenangkan melihat warga Tetebatu juga antusias untuk melestarikan lingkungan mereka. Mendapat kesempatan untuk berkontribusi bersama WWF juga menjadi salah satu pengalaman berharga.
Oh ya, pelaksanaan tim KKNku juga mengangkat masalah lingkungan. Kami melihat bahwa
![]() |
| Semangat Tim KKN Tetebatu menanam bibit pohon bersama warga Sumber: dokumen penulis |
warga Tetebatu belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan belum menerapkan pengolahan sampah. Maka kami melakukan serangkaian program mengenai masalah sampah ini seperti edukasi sampah untuk anak-anak sekolah dasar dan masyarakat, program bersih-bersih desa, pembagian bak sampah gratis yang diletakkan di titik-titik strategis desa Tetebatu. Kami menyadari tantangan tersulit dalam melaksanakan program ini adalah mengubah pola pikir masyarakat dalam memperlakukan sampah. Karena itu, tujuan utama kami saat itu adalah mengubah pola pikir masyarakatnya terlebih dahulu.
- Tidak hanya menangani masalah sampah, kami juga melakukan penanaman bibit pohon di kaki Gunung Rinjani. Kami mendapat sumbangan 1000 bibit pohon dari Dinas Kehutanan yang kami tanam bersama-sama dengan warga setempat. Bibit pohon ini juga dibagi-bagikan kepada warga sehingga mereka dapat melakukan penghijauan di rumah masing-masing. Setiap kali aku mengingat masa-masa KKN kami, aku merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk membantu mengatasi masalah lingkungan langsung ke masyarakat luas.
| Edukasi sampah di sekolah dasar Sumber: dokumen penulis |
- *
- Memang tidak banyak yang telah aku lakukan dalam menangani masalah lingkungan. Aku jarang terlibat dalam kegiatan massal pemberdayaan lingkungan. Tetapi hal itu tidak menandakan bahwa aku tidak peduli, kan? Semoga tulisan yang kumuat dalam blog ini bisa bermanfaat dan menginspirasi kalian untuk lebih memperhatikan masalah lingkungan. Aku percaya bahwa untuk berkontribusi menangani masalah lingkungan, dapat dimulai dari hal yang sederhana sekalipun.



