Sunday, March 30, 2014

Yuk, Peduli Lingkungan!

        Halo, sudah lama tidak menulis di blog lagi. Well, kali ini aku tertarik untuk berbicara mengenai masalah lingkungan.
        *
      Aku mulai memperhatikan masalah lingkungan sejak SMA. Saat itu, aku ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam rangka lomba speech dengan tema global warming (pemanasan global). Sejak itulah aku tahu bahwa global warming bukan lagi menjadi ramalan, melainkan sudah terjadi hingga saat ini. Panas yang menyengat, pola perubahan cuaca yang tak teratur adalah akibat dari pemanasan global. Dari situlah aku belajar untuk bergaya hidup ramah lingkungan secara perlahan.
      Aku mengakui bahwa aku bukan orang yang gaya hidupnya sepenuhnya mengikuti gaya hidup ramah lingkungan. Aku tetap mengendarai sepeda motor ke sekolah. Tidak dapat menggunakan kendaraan umum karena tidak ada jalurnya dari sekolah ke rumahku. Tetapi aku berusaha untuk turun tangan, dengan cara yang sederhana. Aku selalu mematikan lampu di saat tidak membutuhkannya, menggunakan kembali (reuse) kertas yang salah satu sisinya masih kosong, ataupun yang terisi sepenuhnya. Dulu, aku sering membuat kotak surat dari bekas kotak susu. Kantong-kantong plastik yang aku peroleh selepas belanja aku simpan baik-baik, dan menggunakannya saat diperlukan kembali, sehingga penggunaan plastik bisa diminimalisir. Membiasakan diri untuk menutup keran air saat tidka menggunakannya. Kebiasaan ini masih kulakukan hingga kini. Aku selalu mencabut charger gadgetku dari terminal listrik ketika sudah selesai menggunakannya. Banyak orang yang membiarkan chargernya terpasang dan menganggap hal ini tidak menghabiskan energi. Tetapi bagiku, tidak ada salahnya mencabutnya karena tindakan ini akan mengurangi pemakaian energi listrik, meskipun tidak terlalu signifikan. Entah mengapa, menurutku pemanasan global mulai dipandang sebelah mata oleh banyak orang.
      By the way, aku sering sebal melihat orang yang membuang sampah sembarangan, utamanya di jalan. Banyak orang yang mengendarai mobil tetapi membuang sampahnya sembarangan di jalan. Ada juga orang-orang yang terbiasa untuk melemparkan sampah di sekitar mereka. Padahal, apa susahnya menyimpan sampah tersebut sampai menemukan tempat sampah terdekat? Aku merasa beruntung orang tuaku membiasakan aku dan adik-adikku untuk membuang sampah pada tempatnya. Kami juga mulai membiasakan untuk memisahkan sampah organik dan sampah anorganik. Hal yang nampaknya remeh, namun membawa dampak besar bagi lingkungan. Aku melihat orang-orang di sekitarku masih terbiasa membuang sampah di selokan. Alhasil, saat hujan deras, selokan pun mampet dan menyebabkan banjir lalu mereka mengeluh. Ini membuatku berpikir. Mungkin manusia memang tidak bisa menerima hasil perbuatannya sendiri; selalu ingin melimpahkan kesalahan kepada pihak lain. 
      Sementara, pemerintah belum tegas dalam menangani masalah sampah dan lingkungan. Tidak ada larangan tegas untuk membuang sampah pada tempatnya, umumnya di tempat-tempat seperti desa, yang masyarakatnya masih terbiasa membuang sampah di selokan atau sungai terdekat. Siapa sih yang sekarang memperhatikan masalah lingkungan secara serius? – mungkin begitu pikirnya. Tapi lihat apa yang dikeluhkan warga Jakarta saat hujan deras menghadang? Banjir, itu juga masalah lingkungan. Bagaimana dengan kabut asap yang terjadi di Riau dan mengganggu aktivitas warga di sana? Itu juga masalah lingkungan. Seakan-akan lingkungan baru diperhatikan ketika masalah sudah terjadi. Pencegahan yang sangat minim terhadap masalah lingkungan dapat menimbulkan masalah yang sangat besar.
      *
      Aku mulai mengenal WWF sejak di bangku kuliah. Awalnya berawal dari rasa keprihatinanku terhadap hewan-hewan yang nyaris punah karena kurangnya lahan hijau yang merupakan tempat tinggal mereka dan juga akibat perburuan liar. Kemudian aku mengetahui bahwa WWF tidak hanya memperhatikan kesejahteraan hewan, namun juga masalah lingkungan. Dua hal ini memupuk rasa kekaguman dan keingintahuanku terhadap WWF. Aku selalu berpikir bagaimana caranya ikut berkontribusi dengan WWF dalam memperhatikan masalah hewan dan lingkungan. Sampai akhirnya, aku mendapat kesempatan tersebut.
    Penanaman bibit pohon bersama WWF, Dinas Kehutanan dan warga
    Sumber: dokumen penulis
      Kebetulan aku dan teman-temanku sedang survei untuk keperluan kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Tetebatu, Lombok Timur. Kepala Desa mengajak kami untuk mengikuti acara yang diselenggarakan WWF dan Dinas Kehutanan yang bertajuk “New Trees” di kaki Gunung Rinjani. Bersama-sama, kami menanam banyak bibit pohon meskipun hujan turun dengan derasnya. Sangat menyenangkan melihat warga Tetebatu juga antusias untuk melestarikan lingkungan mereka. Mendapat kesempatan untuk berkontribusi bersama WWF juga menjadi salah satu pengalaman berharga.
      Oh ya, pelaksanaan tim KKNku juga mengangkat masalah lingkungan. Kami melihat bahwa
      Semangat Tim KKN Tetebatu menanam
      bibit pohon bersama warga
      Sumber: dokumen penulis
      warga Tetebatu belum terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan belum menerapkan pengolahan sampah. Maka kami melakukan serangkaian program mengenai masalah sampah ini seperti edukasi sampah untuk anak-anak sekolah dasar dan masyarakat, program bersih-bersih desa, pembagian bak sampah gratis yang diletakkan di titik-titik strategis desa Tetebatu. Kami menyadari tantangan tersulit dalam melaksanakan program ini adalah mengubah pola pikir masyarakat dalam memperlakukan sampah. Karena itu, tujuan utama kami saat itu adalah mengubah pola pikir masyarakatnya terlebih dahulu. 
      Tidak hanya menangani masalah sampah, kami juga melakukan penanaman bibit pohon di kaki Gunung Rinjani. Kami mendapat sumbangan 1000 bibit pohon dari Dinas Kehutanan yang kami tanam bersama-sama dengan warga setempat. Bibit pohon ini juga dibagi-bagikan kepada warga sehingga mereka dapat melakukan penghijauan di rumah masing-masing. Setiap kali aku mengingat masa-masa KKN kami, aku merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk membantu mengatasi masalah lingkungan langsung ke masyarakat luas.
    Edukasi sampah di sekolah dasar
    Sumber: dokumen penulis
      *
      Memang tidak banyak yang telah aku lakukan dalam menangani masalah lingkungan. Aku jarang terlibat dalam kegiatan massal pemberdayaan lingkungan. Tetapi hal itu tidak menandakan bahwa aku tidak peduli, kan? Semoga tulisan yang kumuat dalam blog ini bisa bermanfaat dan menginspirasi kalian untuk lebih memperhatikan masalah lingkungan. Aku percaya bahwa untuk berkontribusi menangani masalah lingkungan, dapat dimulai dari hal yang sederhana sekalipun.

Wednesday, March 19, 2014

-----

"besok jadi memperbaiki pintu kamar mandi?"
"hmm, iya. tapi sebenarnya aku ingin mencoba memperbaiki sendiri."
"kenapa?"
"supaya aku bisa jadi wanita mandiri.. dan tidak tergantung pada orang lain."
"tidak usah, apa gunanya bapak-bapak kalau tidak mengurusi rumah? apa mau tiduran saja sementara istri sibuk memasak? masa iya istri juga yang harus mengurus perabot?"

---
"good night. I love you."
tentu saja bukan karena pintu :)

Sunday, March 16, 2014

bahagia itu sederhana

terkadang aku lupa bahwa bahagia itu sederhana.

hari ini aku bahagia karena sempat memberi makan rusa di dekat lembah. dan tambah menyenangkan ketika aku melihat banyak orang tua yang mengajak anak mereka untuk melakukan hal yang sama. mereka datang dengan pakan di tangannya, mengajarkan kepada anak-anak mereka yang tak lebih dari 5 tahun untuk menyuapi para rusa. anak-anak itu tersenyum senang, berinteraksi dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. aku senang karena sebenarnya orang tua mengenalkan anaknya kepada hal-hal yang baik: menyayangi binatang dan berbagi kebahagiaan bersama mereka.

hari ini menyenangkan karena menghabiskan waktu dengan sahabat yang paling aku sayang di pasar minggu pagi. dengan berbekal jamur goreng di tangan, pembicaraan kami berlangsung tanpa arah. berjalan di antara ratusan orang; berbaur di tengah keramaian pun terasa menyenangkan.

hari ini juga sahabatku resmi menjadi sarjana. walaupun sedih karena tak bisa melihatnya langsung, tapi mengetahui kabar ini juga membuatku senang. akhirnya, sahabatku sudah melewati satu tahap lagi dalam mencapai cita-cita. aku bahagia karena melihatnya bahagia.



terimakasih, Tuhan.
semoga besok aku tak lupa bahwa bahagia itu bisa sesederhana ini.


Friday, March 14, 2014

[jatuh.cinta]

maaf kalau aku hanya menulis soal cinta.
tapi bagiku, topik yang satu ini selalu menarik untuk dibahas. siapa sih yang tidak bahagia saat jatuh cinta? coba ingat bagaimana cemasnya kamu menunggu balasan pesan singkatnya (yang dalam kemudian hari sudah berganti menjadi chat. hakekat jatuh cinta boleh sama, tapi teknologinya berbeda). atau siapa yang dulu didekap rasa bahagia yang membuncah tanpa alasan besar; dia yang membalas senyum kita, ajakan untuk makan siang, atau sekedar memperkenalkan diri masing-masing.

jatuh cinta berarti bahagia. iya. karena kita memiliki perasaan tertarik pada satu orang (atau dua orang? whatever, it's yours) yang mungkin belum kita ketahui bagian dalamnya (bukan hal fisik ya, tolong). bagian yang paling menyenangkan adalah menebak-nebak, "kalau dia ngomong gini artinya apa ya?" "aduh dia suka nggak ya sama aku?" dan sejuta pertanyaan klise lainnya. ya, klise. tapi toh buktinya setiap kita jatuh cinta lagi, tetap terasa menyenangkan. jatuh cinta tidak terasa membosankan.

aku tidak berani mengatakan bahwa jatuh cinta hanya ada di awal hubungan. tapi pada sebagian kasus, mungkin iya. hal-hal yang terjadi selanjutnya terasa biasa. menjadi biasa karena kita sudah berekspektasi sang pacar akan melakukan hal tersebut mengingat status yang disandangnya. tapi kalau gebetan? melting, mungkin (based on experience sih, hihi). karena dia orang luar yang tiba-tiba datang memberi kita kebahagiaan, bukan orang yang sebelumnya diharapkan/diberatkan dengan pandangan bahwa dia akan memperlakukan kita dengan manis.

jatuh cinta itu mudah. patah hati? tidak pernah semudah itu. tapi terkadang jatuh cinta tidak selalu berakhir manis. tapi ketika patah hati resmi terlewatkan, mengenang masa-masa jatuh cinta itu akan menyenangkan.

intinya aku hanya ingin mengatakan bahwa jatuh cinta itu menyenangkan. tapi, bukan berarti hal selanjutnya tidak menyenangkan, ya kan? hanya saja... jatuh cinta itu mungkin fase termanis dalam suatu hubungan, sampai akhirnya kita jatuh cinta lagi. entah dengan orang yang sama atau orang baru. maka jangan salahkan bila orang rindu untuk jatuh cinta.

Monday, March 10, 2014

untuk manusia, dari manusia

manusia kerap mengatasnamakan hal lain untuk menutupi kesalahannya.
membunuh ratusan orang dengan mengatasnamakan agama?
mengakhiri nyawa seseorang karena alasan cinta?

maaf jika aku bukan hamba Tuhan yang setia,
maaf juga jika aku terlalu naif.
tapi apa benar agama pernah mengajarkan untuk membunuh orang dan menumbuhkan perasaan bangga atas perilakunya?
apa pantas nyawa seseorang hilang karena alasan cinta yang tidak masuk akal?

bukankah agama hadir untuk mengajarkan kebaikan?
bukankah cinta ada untuk membuat orang lain bahagia?

aku sedang tidak merasa paling benar, tetapi manusia seperti itu telah kehilangan akalnya. ia menjadi buas dan tak terkendali, melakukan hal-hal yang menghempaskan harapan hidup.

tapi maaf, dan tolong, jangan atasnamakan hal yang sebenarnya baik.

--
ini hanya pandangan dari seseorang yang juga manusia, kepada manusia.

kehidupan

menurutku,
dalam kehidupan, akan ada suatu tanya yang tidak pernah terjawab. ia ada untuk dipikirkan, dikenang, dan disimpan rapat-rapat. tidak perlu kembali ke masa lalu untuk mencari jawabnya, karena akan membuang-buang waktu. ia ada untuk tetap dipertanyakan dengan indah. sudah takdirnya untuk menjadi misteri.

menurutku,
setiap hal tidak selalu berakhir bahagia, termasuk cerita bahagia itu sendiri. namun bukan berarti ia pahit untuk dikenang. ketika waktu sudah menyembuhkan segalanya, kita akan mengenang cerita itu dengan senyuman. maka masa lalu tidak selalu kelam. ia ada di belakang, tersimpan rapi, namun tidak dilupakan.

menurutku,
semua rencana bisa berubah. tidak akan ada yang pasti. kesedihan hari ini akan berakhir bahagia di suatu hari, dan sebaliknya. semua hal memiliki garisnya masing-masing. maka, siapa yang pernah tahu tentang masa depan?

menurutku,
inilah kehidupan.

Sunday, March 9, 2014

(somehow) life is pathetic.

kadang sulit untuk menerima ketika hidup kita sedang di bawah.

terkadang hidup memang terlalu. di saat tertentu, aku senang bukan kepalang. bertingkah bagai jalang tanpa kekang, melempar senyum ke sana kemari, tertawa terbahak-bahak. semua kebahagiaan seperti tertarik oleh ujung magnet di dalam diri. begitulah. tumpukan bahagia yang sangat menyenangkan.

namun yang banyak pasti terbatas. dan ketika hidupmu sedang di masa-masa sulit, seketika semua masalah berlomba-lomba untuk menghampiri. bersaing untuk menjadi prioritas pikiran, membuat otak bercabang, menimbun emosi yang siap meledak kapan saja. jangakan tertawa, untuk senyum saja rasanya sulit. tiba-tiba jarak dengan kebahagiaan semakin jauh, ia semakin sulit untuk dijangkau.

tapi hidup bagaikan roda. kadang di atas, kadang di bawah. ketika mengeluh hanya memperburuk suasana, maka sebaiknya percaya pada waktu; waktu yang akan menyembuhkan segalanya.

karena hidup bukanlah seperti menonton film, there is no forward button in real life.

and somehow it feels so pathetic.