akhirnya setelah lama saya terkungkung dalam rutinitas, saya berkesempatan untuk menonton film layar lebar di bioskop. pilihan saya kali ini jatuh pada film Habibie & Ainun, diantara sejumlah film lain yang tengah ditayangkan dan mampu mengularkan antrean pengunjung di depan loket bioskop.
Judul Film: Habibie & Ainun
Sutradara: Faozan Rizal
Artis: Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari
Produksi: MD Pictures
seperti biasa, saya tidak akan membahas jalan cerita dari film arahan Hanung Bramantyo ini. lagipula, jalan cerita film ini pasti sudah tertebak oleh penonton, karena kisah cinta Pak Habibie sendiri sudah banyak dipublikasi. mari kita membahas beberapa hal menarik dan menonjol dari film ini.
saya sangat mengagumi kemampuan akting Reza Rahardian di sini. Reza mampu menggambarkan bagaimana sosok Pak Habibie di sini, karena sikap, gaya bicara hingga gaya berjalan Pak Habibie yang mampu ia tirukan. tidak salah rasanya jika karakter mantan Presiden RI ke-3 ini dipercayakan kepada Reza Rahardian. menurut saya, kehadiran Reza-lah yang menghidupkan film ini secara dari awal hingga akhir cerita. Reza mampu menjiwai karakter Pak Habibie melalui aktingnya.
tapi sayangnya, akting Reza ini kurang didukung oleh make-up yang dibubuhkan. begitu pula dengan Bunga Citra Lestari yang memerankan Ibu Ainun. keduanya tampak kurang tua di menjelang akhir film, sekalipun diceritakan sudah mempunyai dua putra laki-laki yang telah dewasa. maka ketika ada scene yang menampilkan mereka sekeluarga, terasa sedikit janggal karena wajah orang tua dan anak-anaknya nyaris tampak sebaya.
di film ini sebenarnya terdapat sejumlah puncak ketegangan, namun tidak terlalu ditampilkan sehingga masalah yang menimpa Pak Habibie tidak terlalu dirasakan oleh penonton. entah ini tidak sengaja, atau justru sengaja tidak memberatkan pada konflik yang dialami Pak Habibie, dikarenakan ingin lebih fokus kepada cerita kebersamaan Pak Habibie dan Ainun di sepanjang waktu.
satu hal yang disayangkan adalah munculnya banyak sponsor dalam film ini, mulai dari merek minuman hingga make-up. bahkan, ada beberapa merek makanan dan sponsor lain yang sebenarnya tidak relevan ditampilkan di film ini dari segi waktu, karena produk atau sponsor tersebut tergolong baru dan belum ada di waktu terdahulu.
film ini cukup kompleks dari segi sinematografi, karena menggabungkan gambar yang di-take langsung dengan beberapa footage kejadian-kejadian tertentu selama pemerintahan Soeharto yang tidak mungkin di dapatkan langsung (sekalipun ada Tio Pakusodewo yang berperan sebagai Soeharto). di beberapa bagian film ini terdapat sejumlah gambar nyata yang digabungkan dengan animasi, namun animasi yang ditampilkan terlihat fiktif dan hal ini cukup disayangkan. meskipun memang, gambar yang memuat unsur animasi ini adalah gambar yang tidak mungkin didapatkan ketika syuting sekalipun. selain itu, terdapat juga beberapa setting cerita yang dibuat (seperti didesain sedemikian rupa dalam studio, berusaha menyerupai aslinya), dan bagian ini pun menampilkan gambar yang kurang alami.
beberapa bagian dalam film ini memang mengharukan, dan puncaknya tentu berada di bagian akhir cerita. film ini menjadi manis karena ditutup dengan monolog oleh Pak Habibie sendiri, yang mengenang bagaimana dia menikahi Ibu Ainun 50 tahun yang lalu, memutuskan untuk membangun keluarga yang bahagia bersama beliau. film ini pun ditutup dengan scene yang menampilkan Pak Habibie ketika berziarah ke makam Ibu Ainun. selebihnya, menceritakan mengenai bagaimana manisnya kebersamaan mereka, dalam situasi apapun.
film ini membuat saya bangga dan kagum akan sosok Habibie, yang kerja kerasnya ternyata tidak terlalu dihargai di Indonesia. ketika orang Jerman memercayai beliau untuk bekerja sama, justru di negeri sendiri akhirnya beliau tidak mendapatkan apresiasi yang seharusnya. sikap Ibu Ainun juga patut diacungi jempol akan kesetiaannya dalam mendampingi suaminya, meskipun menurut saya akting Bunga Citra Lestari tidak sedalam akting Reza Rahardian.
this is kinda everlasting sweet love story, isn't it? :")
Monday, December 24, 2012
Saturday, December 22, 2012
puisi untuk gadis kecil
halo, gadis kecil di ujung sana
kamu sudah lebih dewasa ya
di hari yang orang bilang hari kelahiran
di mana orang-orang tercinta berlomba-lomba mengucapkan doa
menyampaikan harapan dan kasih sayang
untukmu, sahabat
namun tidak denganku
yang bersua pun tak sempat
tidak mencium pipimu, atau sekedar bersalaman
serta mengucap doa yang mungkin terbalas oleh senyummu
dan mungkin pelukan
ah, maafkan aku
salahku terlalu tenggelam di luar sana
bukan aku bermaksud membela diri
namun diri ini tak pernah hapal tanggal! sungguh
maafkan temanmu yang pelupa ini, ya?
maukah?
ah, puisi ini juga cukup terlambat
sempat kulihat sinar matamu meredup ketika pandangan kita beradu
kecewakah kamu?
salahku, memang. tak menyadari apa yang seharusnya terjadi
tetapi, jika masih bisa aku mengucap
biarkan aku menyampaikan beberapa hal
kini usiamu bertambah, menuju kedewasaan
tapi aku tahu, kamu sudah dewasa untuk gadis seusiamu
pengalaman mengajarimu banyak hal akan kehidupan
dan mengisinya dengan berbagai warna
semoga kamu selalu bahagia dengan mereka yang kamu sayang
doaku tulus, semoga kamu selalu dalam lindunganNya
raihlah impianmu, sayang
Tuhan memberkatimu
tidakkah kamu bertanya mengapa aku memanggilmu gadis?
usiamu mungkin sudah cukup besar
namun di mataku, kamu tetaplah gadis kecil
yang selalu datang dengan senyum keceriaan
dengan segenap tingkah lakumu yang lugu
namun menyimpan kebijaksanaan dalam hatinya
selamat bertambah usia, gadis kecilku
ups, masih bolehkah ku menambahkan akhiran -ku?
kamu sudah lebih dewasa ya
di hari yang orang bilang hari kelahiran
di mana orang-orang tercinta berlomba-lomba mengucapkan doa
menyampaikan harapan dan kasih sayang
untukmu, sahabat
namun tidak denganku
yang bersua pun tak sempat
tidak mencium pipimu, atau sekedar bersalaman
serta mengucap doa yang mungkin terbalas oleh senyummu
dan mungkin pelukan
ah, maafkan aku
salahku terlalu tenggelam di luar sana
bukan aku bermaksud membela diri
namun diri ini tak pernah hapal tanggal! sungguh
maafkan temanmu yang pelupa ini, ya?
maukah?
ah, puisi ini juga cukup terlambat
sempat kulihat sinar matamu meredup ketika pandangan kita beradu
kecewakah kamu?
salahku, memang. tak menyadari apa yang seharusnya terjadi
tetapi, jika masih bisa aku mengucap
biarkan aku menyampaikan beberapa hal
kini usiamu bertambah, menuju kedewasaan
tapi aku tahu, kamu sudah dewasa untuk gadis seusiamu
pengalaman mengajarimu banyak hal akan kehidupan
dan mengisinya dengan berbagai warna
semoga kamu selalu bahagia dengan mereka yang kamu sayang
doaku tulus, semoga kamu selalu dalam lindunganNya
raihlah impianmu, sayang
Tuhan memberkatimu
tidakkah kamu bertanya mengapa aku memanggilmu gadis?
usiamu mungkin sudah cukup besar
namun di mataku, kamu tetaplah gadis kecil
yang selalu datang dengan senyum keceriaan
dengan segenap tingkah lakumu yang lugu
namun menyimpan kebijaksanaan dalam hatinya
selamat bertambah usia, gadis kecilku
ups, masih bolehkah ku menambahkan akhiran -ku?
untuk sahabatku tersayang,
aku merindukanmu
Subscribe to:
Posts (Atom)
