akhirnya, liburan telah tiba. mungkin kalau yang dulu mengikuti lagu anak-anak, akan teringat akan lagunya Tasya dengan judul yang serupa, Libur Telah Tiba. setelah enam bulan berjuang - tanpa bambu runcing - move ke sana kemari, bertemu dengan berbagai wajah setiap harinya, begadang - ketiduran, depresi lihat layar laptop, kamar yang berantakan...... dan semua kekacauan yang ditimbulkan, akhirnya resmi sudah saya bercerai dengan semester empat. sekalipun kita bercerai, saya harap silaturahmi kami selalu baik-baik saja. semoga ia tetap memberikan reward-nya pada saya yang telah, hmmm, berjuang dengan keras. anggap saja begitu *komat-kamit setiap buka portal akademik*
tidak banyak hal yan begitu menyenangkan di semester gila ini. ketika UAS usai pun, tidak ada selebrasi. seperti ibaratnya wisudawan melempar toga, remaja SMA mencorat-coret baju, atau turis yang buka bikini di pantai *eh*. biasa saja. semua biasa saja. biasa sajaaaaa~ *ala Vidi Aldiano*
mungkin ini memang waktunya untuk me-refresh pikiran. jujur saja, semester empat tidak hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi juga emosi. menghadapi orang dengan berbagai karakter dan.... ya begitulah. menjengkelkan. lebih baik Jeng Kelin, sungguh. memang tidak semua manusia bisa bersikap baik terus-terusan tapi.... tetap saja membuat saya mengelus dada dan berdoa sama Tuhan minta kesabaran. enam bulan bukan waktu yang sebentar untuk menghadapi saudara tiri Jeng Kelin ini.
membayangkan saya berjalan-jalan ke luar kota terasa menyenangkan. melihat suasana baru dan tentunya manusia-manusia baru. bertemu dengan sahabat lama. terbangun oleh sinar matahari, bukan oleh bawelnya alarm yang minta dilempar bom molotov (apa itu molotov? tanya ke mbah Gugel saja ya. saya juga lupa artinya). seharian di rumah kayu, bukan di kampus. bermain dengan si Poppy puppy, yang jutek minta ampun sama cewek tapi genit bukan main sama cowok (nggak, nggak jealous kok). melihat orang tua pulang kerja dan menceramahi saya yang malas-malasan di depan TV, atau sekedar melihat adik-adik yang berpeluh dan muka berminyak sembari cengar-cengir lalu melempar tas sembarangan (setelah itu nasihat panjang pun keluar dari mulut saya, dan nggak direspon balik).
ah, liburan memang menyenangkan dan dibutuhkan untuk memastikan kita masih manusia, bukan robot yang terprogram. btw, apa rencana liburanmu? magang? kerja? travelling? (mungkin bisa ngajak-ngajak saya ya) hiking? kemah? atau belajar? (carmuk abis yang jawab belajar)
apapun rencana liburan kamu, selamat liburan ya! jangan lupa melanjutkan scene yang kamu pause selama liburan, ingat kita harus jadi manusia yang bertanggung jawab (elus-elus jenggot). hepi holideeeehhhhhh!! cheeeerrrsss!
jangan lupa oleh-olehnya yaaa ;;)
Friday, June 29, 2012
Sunday, June 24, 2012
The Bicycle Thieves: Deep Colour Sense of Black and White
Directed by: Vittorio De Sica
Starring: Lamberto Maggiorani, Enzo Staiola, Lianella Carell, Vittorio Antonucci
Distributed by: Ente Nazionale Industrie
Release date(s): November 24, 1948
Running time: 93 minutes
Country: Italy
Language: Italian
(Detail information from http://en.wikipedia.org/wiki/Bicycle_Thieves)
Banyak sekali hal-hal yang bisa kita sampaikan melalui film. Lingkungan sosial ekonomi kita yang sering kita anggap remeh ternyata bisa menjadi suatu ide cerita menarik yang menyentuh nurani khalayak. Prinsip inilah yang terdapat dalam sebuah film Itali yang berjudul “The Bicycle Thieves”.
Film yang masih berbalut nuansa hitam putih ini mengangkat perihal masalah ekonomi yang terjadi pada warga Itali. Film ini dibuat pada tahun 1948, bercerita tentang seorang kepala keluarga, Antonio Ricci yang mendapat pekerjaan untuk menempel poster di sekitar kota. Tetapi pekerjaan itu pun membutuhkan syarat, yakni ia harus memiliki sepeda dengan penegasan atasannya, “No bicycle, no job.” Demi menghidupi dua anaknya, Bruno dan adik bayinya, sang istri Maria Ricci pun menjual selimut dan sprei yang ia miliki dan membeli sepeda, tetapi sialnya sepeda tersebut dicuri saat hari pertama ia bekerja. Pikiran akan kebutuhan keluarga yang tidak bisa ia penuhi tanpa sepeda mendorongnya untuk mencari sepeda itu di sekeliling Roma, sampai akhirnya terdesak untuk mencuri. Beruntung akhirnya ia dilepaskan oleh pemilik sepeda tersebut.
Sebenarnya setting film ini hanya dua hari lamanya, tetapi ternyata mampu menceritakan kisah yang dalam mengenai perjuangan Antonio untuk mencari sepedanya yang dicuri. Sepanjang hari, ia dan anaknya, Bruno diceritakan berjalan mengelilingi kota demi menemukan sepedanya. Tidak seperti film pada umumnya dengan setting cerita yang lama, film ini mengikuti perjalanan si Antonio, dengan setting waktu yang tidak melompat-lompat. Dari segi sinematografi, film ini tergolong film yang sudah mengikuti perkembangan teknik dan teknologi terbaru, seperti teknik kamera montage, angle yang bermacam-macam dan berisikan suara sehingga tidak lagi membuat penonton turut bisu dalam mengartikan adegan-adegannya.
Hal unik yang saya dapatkan dari menonton film ini adalah emosi. Tetapi, emosi yang saya dapatkan bukanlah dari si Antonio yang kehilangan sepedanya, tetapi lebih ketika si Antonio meninggalkan anaknya, mengabaikan bahkan membiarkannya berjalan ke sana kemari sendiri, hingga hampir ditabrak sebuah mobil yang tengah melintas. Dan adegan klimaksnya adalah ketika Antonio menampar Bruno. Selama pencarian sepeda, Antonio memang kerap meninggalkan anaknya di belakangnya, padahal Bruno telah mencoba begitu sabar mengikuti ayahnya. Tapi toh bagaimanapun juga, Antonio sebenarnya sayang pada anaknya dan khawatir ketika ia tidak Bruno di tempat mereka berjanji untuk bertemu.
Film yang menceritakan kisah hidup Antonio selama dua hari dikemas menjadi dua jam. Ide cerita film ini simpel, tapi cerita yang disajikan tidak murahan. Terbukti dari The Bicycle Thieves yang lalu dikenal sebagai film neoralisme terbaik; film yang berpijak dari realitas sosial. Genre film seperti ini sudah jarang kita temui sekarang, dan kalaupun ada, rata-rata akan mengunggulkan sisi yang bisa dikomersilkan dari segi sinematografi, misal seks bebas.
Sang sutradara Vittorio De Sica memang patut diacungi jempol atas hasil karyanya. Selain menciptakan film neoralisme terbaik, ia mampu mengarahkan para aktor – bahkan si pemeran utama – yang bukan merupakan artis, berakting layaknya aktor yang sudah terbiasa berekspresi di depan kamera. Lamberto Maggiorani, pemeran utama Antonio Ricci bahkan hanya seorang karyawan biasa yang mungkin sebelumnya tidak pernah tampil dalam film apapun.
Hmm jadi ternyata, membuat film yang menyentuh dan berkesan itu tidak membutuhkan ide cerita muluk-muluk dan artis yang cakap, ya? ;)
Saturday, June 9, 2012
harapan
terkadang aku berpikir. memikirkan dirimu yang kini berjalan di sisiku. apakah benar kau yang ku inginkan? apakah benar kau yang selalu membuatku bersemangat di pagi hari? yang membuatku menebar senyum selaras irama langkah?
jika boleh aku berkata jujur, tidak kurasakan apa yang dulu aku rasakan. semua berjalan biasa saja. tidak ada lagi kejutan. tidak ada sesuatu yang istimewa. tidak ada luapan kegembiraan dalam hati. goresan abulah yang mewarnai, bukan warna warni seperti dulu. datar. ya, mungkin itu dia. maaf jika ini terlalu menyakiti.
pasti kamu akan mengatakan aku meragu. bukan, aku bukan meragu. aku merasa kebal. kebal akan perasaan-perasaan lugu yang dulu menghampiri. tidak aneh jika kau mengatakan sayang. tidak kaget ketika kau meletakkan bunga di depan kamarku. sudah kubilang, tidak ada lagi kejutan. aku seolah mati rasa.
namun kumohon kau jangan berburuk sangka. bukan berarti aku tak memiliki rasa. aku hanya sedang menjalani semua dengan logika. menegaskan kembali bahwa apapun yang terjadi, itu tak salah. tak salah, bukan berarti benar. tidak menyalahkan atas pertengkaran yang terjadi. tidak memadamkan api amarah yang menyulut. tidak membendung air mata. tidak, sama sekali tidak. membiarkan semua terjadi begitu saja.
tersakiti? entah sudah yang kesekian kalinya, sejak aku mengenal suatu hal yang bernama perasaan. perasaan sayang. tak heran bukan jika kini aku menjadi kebal? aku hanya akan menangis sejenak, lalu kembali tersenyum. mungkin senyumku memang sedikit rapuh. tapi toh aku tetap bisa menjalani hariku seperti sedia kala. tidak ada yang harus dirubah. let it be, let it be.
harapan adalah satu formula yang mampu membuat kita jatuh berkeping-keping. mengapa mereka sedih ketika mereka berpisah dengan sang kekasih? mengapa seseorang begitu terluka ketika perasaannya tak sejalan dengan makhluk yang dicintainya? jawabannya hanya karena harapan. kita begitu berharap bahwa ia takkan pernah meninggalkan kita. dia begitu berharap jikalau perasaannya akan mendapat sambutan hangat dari pujaannya. sayangnya, manusia tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
beberapa kali aku terjatuh akan harapan. berharap ia mampu menggandeng tanganku selamanya, atau berharap bahwa ia mengerti aku apa adanya. namun toh ternyata sia-sia. apa yang aku harapkan tidak tercapai. kini, aku sudah enggan berharap. untuk apa? hanya menyakiti hati saja.
padahal aku tahu betul bahwa harapanlah yang mewarnai hari-hari kita. membuat kita melakukan segala sesuatunya yang terbaik. tanpa harapan, mungkin hambar terasa. ya, seperti sekarang. semua biasa saja.
maafkan aku. bukan berarti aku tidak menyayangimu. aku hanya tidak berharap lebih. aku tak ingin merasakan sakit yang kesekian kalinya. maaf. aku sedang meninggikan logika dibandingkan dengan perasaan yang begitu rapuh. tapi aku hanya ingin kau mengerti, aku menyayangimu dengan caraku. dengan cara yang berbasis pada logika. dengan semua yang aku miliki. apapun itu, aku menyayangimu. menyayangi tanpa berharap.
jika boleh aku berkata jujur, tidak kurasakan apa yang dulu aku rasakan. semua berjalan biasa saja. tidak ada lagi kejutan. tidak ada sesuatu yang istimewa. tidak ada luapan kegembiraan dalam hati. goresan abulah yang mewarnai, bukan warna warni seperti dulu. datar. ya, mungkin itu dia. maaf jika ini terlalu menyakiti.
pasti kamu akan mengatakan aku meragu. bukan, aku bukan meragu. aku merasa kebal. kebal akan perasaan-perasaan lugu yang dulu menghampiri. tidak aneh jika kau mengatakan sayang. tidak kaget ketika kau meletakkan bunga di depan kamarku. sudah kubilang, tidak ada lagi kejutan. aku seolah mati rasa.
namun kumohon kau jangan berburuk sangka. bukan berarti aku tak memiliki rasa. aku hanya sedang menjalani semua dengan logika. menegaskan kembali bahwa apapun yang terjadi, itu tak salah. tak salah, bukan berarti benar. tidak menyalahkan atas pertengkaran yang terjadi. tidak memadamkan api amarah yang menyulut. tidak membendung air mata. tidak, sama sekali tidak. membiarkan semua terjadi begitu saja.
tersakiti? entah sudah yang kesekian kalinya, sejak aku mengenal suatu hal yang bernama perasaan. perasaan sayang. tak heran bukan jika kini aku menjadi kebal? aku hanya akan menangis sejenak, lalu kembali tersenyum. mungkin senyumku memang sedikit rapuh. tapi toh aku tetap bisa menjalani hariku seperti sedia kala. tidak ada yang harus dirubah. let it be, let it be.
harapan adalah satu formula yang mampu membuat kita jatuh berkeping-keping. mengapa mereka sedih ketika mereka berpisah dengan sang kekasih? mengapa seseorang begitu terluka ketika perasaannya tak sejalan dengan makhluk yang dicintainya? jawabannya hanya karena harapan. kita begitu berharap bahwa ia takkan pernah meninggalkan kita. dia begitu berharap jikalau perasaannya akan mendapat sambutan hangat dari pujaannya. sayangnya, manusia tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
beberapa kali aku terjatuh akan harapan. berharap ia mampu menggandeng tanganku selamanya, atau berharap bahwa ia mengerti aku apa adanya. namun toh ternyata sia-sia. apa yang aku harapkan tidak tercapai. kini, aku sudah enggan berharap. untuk apa? hanya menyakiti hati saja.
padahal aku tahu betul bahwa harapanlah yang mewarnai hari-hari kita. membuat kita melakukan segala sesuatunya yang terbaik. tanpa harapan, mungkin hambar terasa. ya, seperti sekarang. semua biasa saja.
maafkan aku. bukan berarti aku tidak menyayangimu. aku hanya tidak berharap lebih. aku tak ingin merasakan sakit yang kesekian kalinya. maaf. aku sedang meninggikan logika dibandingkan dengan perasaan yang begitu rapuh. tapi aku hanya ingin kau mengerti, aku menyayangimu dengan caraku. dengan cara yang berbasis pada logika. dengan semua yang aku miliki. apapun itu, aku menyayangimu. menyayangi tanpa berharap.
Subscribe to:
Posts (Atom)
