Sunday, June 24, 2012

The Bicycle Thieves: Deep Colour Sense of Black and White




Directed by:  Vittorio De Sica
Starring:          Lamberto Maggiorani, Enzo Staiola, Lianella Carell, Vittorio Antonucci
Distributed by:  Ente Nazionale Industrie
Release date(s): November 24, 1948
Running time:   93 minutes
Country:          Italy
Language:          Italian
(Detail information from http://en.wikipedia.org/wiki/Bicycle_Thieves)


Banyak sekali hal-hal yang bisa kita sampaikan melalui film. Lingkungan sosial ekonomi kita yang sering kita anggap remeh ternyata bisa menjadi suatu ide cerita menarik yang menyentuh nurani khalayak. Prinsip inilah yang terdapat dalam sebuah film Itali yang berjudul “The Bicycle Thieves”.
Film yang masih berbalut nuansa hitam putih ini mengangkat perihal masalah ekonomi yang terjadi pada warga Itali. Film ini dibuat pada tahun 1948, bercerita tentang seorang kepala keluarga, Antonio Ricci yang mendapat pekerjaan untuk menempel poster di sekitar kota. Tetapi pekerjaan itu pun membutuhkan syarat, yakni ia harus memiliki sepeda dengan penegasan atasannya, “No bicycle, no job.” Demi menghidupi dua anaknya, Bruno dan adik bayinya, sang istri Maria Ricci pun menjual selimut dan sprei yang ia miliki dan membeli sepeda, tetapi sialnya sepeda tersebut dicuri saat hari pertama ia bekerja. Pikiran akan kebutuhan keluarga yang tidak bisa ia penuhi tanpa sepeda mendorongnya untuk mencari sepeda itu di sekeliling Roma, sampai akhirnya terdesak untuk mencuri. Beruntung akhirnya ia dilepaskan oleh pemilik sepeda tersebut.
Sebenarnya setting film ini hanya dua hari lamanya, tetapi ternyata mampu menceritakan kisah yang dalam mengenai perjuangan Antonio untuk mencari sepedanya yang dicuri. Sepanjang hari, ia dan anaknya, Bruno diceritakan berjalan mengelilingi kota demi menemukan sepedanya. Tidak seperti film pada umumnya dengan setting cerita yang lama, film ini mengikuti perjalanan si Antonio, dengan setting waktu yang tidak melompat-lompat. Dari segi sinematografi, film ini tergolong film yang sudah mengikuti perkembangan teknik dan teknologi terbaru, seperti teknik kamera montage, angle yang bermacam-macam dan berisikan suara sehingga tidak lagi membuat penonton turut bisu dalam mengartikan adegan-adegannya.
Hal unik yang saya dapatkan dari menonton film ini adalah emosi. Tetapi, emosi yang saya dapatkan bukanlah dari si Antonio yang kehilangan sepedanya, tetapi lebih ketika si Antonio meninggalkan anaknya, mengabaikan bahkan membiarkannya berjalan ke sana kemari sendiri, hingga hampir ditabrak sebuah mobil yang tengah melintas. Dan adegan klimaksnya adalah ketika Antonio menampar Bruno. Selama pencarian sepeda, Antonio memang kerap meninggalkan anaknya di belakangnya, padahal Bruno telah mencoba begitu sabar mengikuti ayahnya. Tapi toh bagaimanapun juga, Antonio sebenarnya sayang pada anaknya dan khawatir ketika ia tidak Bruno di tempat mereka berjanji untuk bertemu.
Film yang menceritakan kisah hidup Antonio selama dua hari dikemas menjadi dua jam. Ide cerita film ini simpel, tapi cerita yang disajikan tidak murahan. Terbukti dari The Bicycle Thieves yang lalu dikenal sebagai film neoralisme terbaik; film yang berpijak dari realitas sosial. Genre film seperti ini sudah jarang kita temui sekarang, dan kalaupun ada, rata-rata akan mengunggulkan sisi yang bisa dikomersilkan dari segi sinematografi, misal seks bebas.
Sang sutradara Vittorio De Sica memang patut diacungi jempol atas hasil karyanya. Selain menciptakan film neoralisme terbaik, ia mampu mengarahkan para aktor – bahkan si pemeran utama – yang bukan merupakan artis, berakting layaknya aktor yang sudah terbiasa berekspresi di depan kamera. Lamberto Maggiorani, pemeran utama Antonio Ricci bahkan hanya seorang karyawan biasa yang mungkin sebelumnya tidak pernah tampil dalam film apapun.
Hmm jadi ternyata, membuat film yang menyentuh dan berkesan itu tidak membutuhkan ide cerita muluk-muluk dan artis yang cakap, ya? ;)

1 comment:

if you have any comment or suggestion, please kindly to write it below: