Monday, July 28, 2014

kapan, kapan, dan kapan?

hai semua, selamat hari raya Idul Fitri ya! selamat berkumpul dengan keluarga. saya minta maaf atas kesalahan saya yang sudah-sudah. kalau kata orang, mari kita kembali ke titik nol lagi :D

btw.. ini sudah bulan Juli, ya. dan saya.... belum lulus juga (hiks ini agak sedih). teman-teman seangkatan saya yang kuliah di berbagai universitas sudah banyak yang memperoleh gelar sarjananya. saya? masih berjuang bersama teman-teman saya yang lain. mohon doanya ya semoga semua dipermudah hihihi.

syukurnya Lebaran kali ini saya bisa berkumpul dengan keluarga. tapi di tahun tua mahasiswa seperti ini, pertanyaan yang kadang saya malas untuk jawab adalah "kapan lulus?"

pertanyaan ini selalu muncul, utamanya dari keluarga. iya, saya paham itu salah satu bentuk perhatian... tapi tentunya dengan tidak mengintimidasi dong, hehe. menurut saya pribadi, proses penyusunan skripsi antarmahasiswa tidak bisa dibandingkan sama sekali. absolutely not. makanya kadang saya enggan menjelaskan ketika saya dibandingkan dengan mahasiswa lain dari jurusan, universitas, dan daerah yang berbeda, seangkatan namun sudah lulus duluan. banyak orang yang tidak mau tahu prosesnya; mereka hanya ingin tahu hasilnya. perjuangan masing-masing orang untuk skripsi kan beda, bro. jadi yah... kalau mau menyamakan, agak tidak adil rasanya. tapi lama-lama kemudian saya jadi sudah mulai cuek. bukannya cuek mau lulus kapan, tapi kalau pertanyaan serupa terlontar... lebih baik jawab dengan template, "iya, sebentar lagi. masih nyusun!" dengan senyum yang paling lebar.

sejujurnya saya sedikit malu untuk pulang karena belum lulus. paling malu sama orang tua sih hehe. bukan karena malas menghadapi pertanyaan kapan lulus tadi. tapi setelah saya pikir-pikir, mereka akan tetap bertanya mengenai perbedaan fase kehidupan kita. sudah lulus, pasti akan ditanya kapan kerja, atau kapan lanjut kuliah. sudah kerja, ditanya kapan nikah. sudah nikah, ditanya kapan mau punya anak... dan seterusnya sampai kehidupan kita sudah stabil kali ya, hehe. jadi mau bagaimanapun juga kita akan tetap harus menjawab pertanyaan seperti itu. kapan, kapan, dan kapan?

ya syukurnya yang bertanya kepada saya masih dengan nada yang memotivasi. duh, kalau kalian pernah mengalami hal serupa namun pertanyaannya terdengar menyakitkan hati... abaikan saja. jadikan motivasi saja kalau kita bisa melakukan hal yang lebih baik dari yang mereka pikir. just keep going! no one can really understand about what we've been going through but ourself. peribahasanya anjing menggonggong khafillah berlalu (eh ini bener nggak sih?) yah begitulah maksud saya.

so.. kalau kalian sedang berkumpul bersama keluarga dan menghadapi pertanyaan serupa, I'm sure you know what to answer. good luck!

Friday, July 11, 2014

Another Great Time to Remember

hari ini, saya dan teman-teman KKN saya membicarakan keberangkatan adik-adik angkatan (dan mungkin teman-teman) yang menghadiri upacara pelepasan KKN. otomatis hal ini mengingatkan saya akan pengalaman KKN kami satu tahun lalu.

tempat favorit saya di Desa Tetebatu: Bendungan Ulem-ulem
tidak terasa sudah setahun lalu kami berangkat ke Desa Tetebatu, Lombok Timur untuk mengabdi. katakanlah kami mengabdi, walaupun sejatinya KKN adalah mata kuliah wajib yang bernilai 3 sks. bedanya dengan KKN tahun ini adalah tahun lalu kami berangkat di akhir Juni, sehingga pada saat puasa teman-teman sudah berada di lokasi KKN. pada tahun ini, mereka yang berpuasa dan berangkat KKN harus berpuasa selama perjalanan. belum lagi mereka yang KKN di pelosok, yang menempuh berbagai macam transportasi darat, laut, dan udara. semoga saja perjalanan mereka tetap terasa menyenangkan. saya salut dengan mereka yang tetap berpuasa di tengah perjalanan yang jauh dan lama.

bersama sub unit Dusun Lingkung Leuk
sampai saat ini, saya masih merasa bangga mendapat kesempatan untuk melaksanakan program KKN. tidak hanya kebanggaan, namun ada banyak pengalaman dan kebahagiaan yang saya peroleh. saya bangga bisa membantu penduduk desa ke arah yang lebih baik. saya dan teman-teman merasa sangat senang jika program-program yang kami jalankan mendapat antusiasme dan partisipasi yang tinggi dari masyarakat. saya senang bisa menginjakkan kaki di Pulau Lombok, pulau yang sejatinya hanya terpisahkan satu selat dari tanah kelahiran saya. saya senang bisa memiliki keluarga baru hingga saat ini, yakni teman-teman KKN dan warga Desa Tetebatu.

saat mengisi libur Lebaran dengan berkunjung ke Lombok Tengah
ketika berbicara mengenai pengalaman, saya ingin sekali banyak bercerita. akan tetapi, semua terlalu panjang untuk dituturkan dalam kata. saya belajar banyak mengenai cara bekerjasama dengan dua puluh sembilan orang dengan watak dan pemikiran yang berbeda. saya jadi mengetahui dinamika penduduk desa dalam suasana politik tertentu (pada saat saya KKN, di Desa Tetebatu sedang ada pemilihan kepala desa). saya belajar banyak dari keseharian penduduk yang sederhana dan apa adanya. lokasi KKN saya memang termasuk pelosok, tetapi masih dapat dijangkau dengan kendaraan biasa. namun, saya juga merasakan apa yang teman-teman lain rasakan di lokasi KKN-nya; berjalan kaki dengan jarak tempuh yang tidak pendek, terguncang di bak mobil terbuka setiap hendak menuju dusun penempatan masing-masing sub unit, minim sinyal telepon seluler, tidak ada hiburan televisi, dan lain sebagainya. KKN benar-benar memberikan segudang pengalaman berharga bagi saya, yang tidak mampu untuk saya sebutkan satu per satu.
bersiap ke kaki Gunung Rinjani untuk program penanaman pohon
kebersamaan kami saat KKN masih selalu saya kenang dengan bangga, bahagia, rindu, dan bercampur dengan haru. kami melewati masa-masa susah dan senang selama dua bulan. tidak jarang kami beradu pendapat, kesal satu sama lain, namun toh akhirnya itu adalah fase normal di dalam sebuah kelompok dan pasti akan terlewati. kami tertawa bersama, menghabikan waktu menyenangkan dengan saling bercerita. kami merasa dekat dengan warga sekitar yang telah bersedia menerima kami apa adanya. ribuan foto telah kami abadikan untuk mengenang semua pengalaman yang telah kami alami.

KKN bukan sekedar tugas mata kuliah 3 sks. KKN adalah sebuah pengalaman berharga yang tak akan pernah terlupakan. pengalaman KKN tak akan pernah habis untuk dikenang, ditertawakan bersama, dan dirindukan. sepengetahuan saya, teman-teman saya dari kelompok KKN lain juga merasakan hal yang sama. teman-teman terdekat saya selalu menceritakan pengalaman KKN dengan penuh rasa bangga, bukan dengan rutukan-rutukan yang menjatuhkan. namun, hal ini relatif dan memang tergantung pada lokasi KKN, teman-teman satu kelompok, dan faktor lain. mungkin saja, banyak teman-teman di luar sana yang justru merasakan hal yang sebaliknya.

bersama anak-anak SD 3 Tetebatu dan staf pengajar
saat saya menulis ini, rasa rindu saya semakin meletup-letup. ingin sekali saya menjejakkan kaki kembali di Desa Tetebatu bersama teman-teman. saya rindu menatap sosok Gunung Rinjani yang gagah dari sisi bendungan Ulem-ulem. saya rindu hawa dingin yang selalu mendorong saya untuk menggulung diri di dalam selimut. saya rindu beramai-ramai menaiki mobil bak terbuka untuk mencapai dusun penempatan masing-masing. saya rindu berbuka puasa bersama, dan (kalau tidak ngantuk) ikut sahur di pagi hari. saya rindu dengan senyuman warga sekitar dan obrolan yang kini tersimpan dalam ingatan. saya rindu mengajar di SD dan disambut anak-anak yang berebutan untuk bersalaman. saya merindukan semua hal yang terjadi selama KKN.

selamat KKN bagi teman-teman yang akan berangkat (atau sudah berangkat) di minggu ini. semoga semua berjalan lancar dan kalian mendapat pengalaman yang luar biasa berharga. selamat kembali mengenang masa-masa indah setahun yang lalu, bagi kita yang telah mengecap pahit manisnya dua bulan hidup bersama keluarga baru di tempat yang tidak terpikirkan sebelumnya :)