Sunday, November 10, 2013

berlari

kadang aku lelah berlari. kakiku lebih dari sekedar mati rasa. jantungku tak henti-hentinya berdegup kencang. irama nafasku semakin tak beraturan. aku kacau, sangat kacau.
dalam perjalananku, entah sudah beberapa kali aku terperosok ke dalam lubang. atau kadang terpeleset akibat barisan pasir dan kerikil. lecet, memar? itu sudah biasa. toh esoknya akan sembuh kembali, meskipun harus menahan rasa perih semalaman.
aku sudah jauh berlari. kembali ke titik awal? huh, hanya manusia bodoh yang melakukan itu. aku tak ingin membuat diriku merasa lebih bodoh lagi. kuyakinkan hati kecilku bahwa aku harus tetap berlari. apapun yang terjadi, kakiku akan tetap berlari.

namun kali ini, tolong, aku sudah tidak sanggup lagi. ingin sekali ku rebahkan badanku di jalan yang kering ini. aku lelah, sangat lelah. kakiku bergetar hebat, pandanganku mengabur. untuk mengeluh pun aku tak bisa. yang ku tahu, butiran air mataku menitik tanpa henti.

apa yang sedang aku kejar?

pertanyaan itu membuatku terhentak. kupaksakan otakku untuk bekerja. apakah matahari? tidak, sedari awal aku sudah tahu bahwa ujung jari ini tak sekalipun akan menyentuh koronanya. apakah bulan atau bintang? tidak, mereka terlalu jauh untuk digapai, sekalipun aku memiliki sayap layaknya bidadari dalam khayalan. lalu apa?

setelah sekian lama, aku menemukan jawabannya.

aku tidak pernah mengejar apapun di dunia ini.

aku hanya tidak ingin tertinggal di belakang, menjadi memori yang terbang bersama gumpalan debu. meninggalkan sebuah nama yang bahkan tak akan pernah disebut. aku terlalu takut untuk sendiri, terlalu lemah untuk berada dalam sepi. terlalu lelah untuk berada dalam ketidakpastian.

Tuhan, mungkin aku hanya memang terlalu takut.

semua akan baik-baik saja ketika aku tidak berlari. lambat laun langkah kakiku akan mengantarkanku sampai tujuan.
kusadari matahari, bulan, bintang selalu berada di dekatku. aku bahkan tidak pernah sendiri.

aku merindukan saat semilir angin menerpa wajahku. sudah lama aku tak memenuhi rongga paru-paruku dengan kuantitas udara yang layak. sudah lama sekali ketika aku mencoba menerka berapa jumlah bintang di angkasa, atau sekedar bermain bersama kehangatan matahari.

saat ini, aku hanya ingin menikmati hidupku, senikmat-nikmatnya.

biarlah aku tak berlari. namun akan kupastikan, kaki ini akan melangkah dengan gemulai di ujung penantian.