Sunday, December 22, 2013

Catatan KKN #1

aku masih ingat ketika anak-anak itu berebutan untuk menyalami tanganku. mereka tak berbicara, namun tangan mereka menggapai-gapai. senyum mereka manis dan tulus. setelah mereka puas bersalaman, mereka pun berhamburan, seperti lebah yang kehilangan sarangnya.

kemudian mereka berlari ke sana kemari. ada yang berkelahi, menjahili temannya, atau duduk-duduk di depan kelas. anak-anak laki-laki biasanya bermain sepak bola, sementara anak-anak perempuan berdiri melingkar, membicarakan sesuatu yang diselingi dengan tawa.

terkadang aku kesulitan untuk
mengajar mereka. namun dengan sabar, aku mengulang materi yang telah kusampaikan di depan kelas. kuajarkan pula mereka cara memegang pensil dan menulis huruf vokal. ada yang cepat belajar, ada yang masih kebingungan. ada juga yang hanya memperhatikan teman-temannya belajar, namun enggan untuk belajar.

yang tak akan pernah aku lupa adalah sambutan hangat mereka. antusiasme mereka dalam mengikuti program-program yang kami adakan. sambutan mereka yang ramah. wajah bahagia mereka setiap kami ke sekolah. ejekan, pantun, dan candaan yang dilontarkan. semua terekam jelas dalam ingatan.

sebuah ingatan yang memanggil. sebuah kenangan yang manis.sebuah undangan untuk datang kembali dan merengkuh mereka; melakukan hal yang dulu terlaksana, dan bernostalgia.



Catatan tim KKN di Desa Tetebatu, Lombok Timur
Juli-Agustus 2013

Wednesday, December 11, 2013

hujan (biasanya)

hujan tak berhenti turun dari semalam.
namun tak apa. itu tak sebanding denganmu yang telah meninggalkanku bermalam-malam.

biasanya saat hujan, aku selalu meronta untuk bermain air di luar. namun kamu selalu melarangku.
"nanti kamu sakit," bujukmu, sambil merapikan poniku.
apakah kini kamu melakukan hal yang sama dengan gadismu? atau justru kamu tengah bermain hujan bersamanya?

aku benci ketika aku masih saja mematuhi segala ucapanmu. seharusnya kini aku bisa bermain hujan sepuas hati. namun sepenggal kalimat itu membuatku menahan diri. lihat? di saat kamu bukan milikku lagi, aku masih saja mematuhi perkataanmu.

biasanya, saat hujan turun kamu selalu menemukan alasan untuk tidak makan. dan akulah yang dengan senang hati membawakanmu hidangan untuk disantap. kamu selalu membalasnya dengan pelukan dan ucapan terimakasih.

biasanya.

hingga di tengah suatu hujan, kamu berkata bahwa aku tak pernah beranjak dewasa. katamu, aku terlalu meminta waktumu. katamu, aku terlalu memanjakanmu. katamu pula, aku membuatmu mengorbankan banyak hal-hal berarti. katamu, aku membuatmu terjebak di dunia anak-anak.

saat itu adalah hujan yang tidak biasanya.

entah sudah berapa musim hujan berlalu sejak itu. aku ingat betul aku menangisimu bermalam-malam. suara tangisanku tertelan oleh gemuruh dan derasnya hujan. kamu bahkan tak pernah tahu, hingga hari ini.

sampai siang ini, aku menemukan sebuah amplop tergeletak di depan kamarku. dan namamu tertera di amplop itu.

lihat, dirimu akan segera menikah dengan wanita yang mungkin kamu idam-idamkan selama ini. wanita yang elegan dan dewasa. wanita yang membimbingmu tumbuh menjadi laki-laki dewasa. wanita yang membuatmu mengejar dan melamarnya.

kini ku tahu, hujan esok hari akan terasa berbeda. tangisku tak akan lagi pecah. renunganku tentangmu akan hanyut perlahan-lahan, seiring dengan derasnya hujan.

semoga kamu berbahagia bersamanya, di musim hujan ini.