hujan tak berhenti turun dari semalam.
namun tak apa. itu tak sebanding denganmu yang telah meninggalkanku bermalam-malam.
biasanya saat hujan, aku selalu meronta untuk bermain air di luar. namun kamu selalu melarangku.
"nanti kamu sakit," bujukmu, sambil merapikan poniku.
apakah kini kamu melakukan hal yang sama dengan gadismu? atau justru kamu tengah bermain hujan bersamanya?
aku benci ketika aku masih saja mematuhi segala ucapanmu. seharusnya kini aku bisa bermain hujan sepuas hati. namun sepenggal kalimat itu membuatku menahan diri. lihat? di saat kamu bukan milikku lagi, aku masih saja mematuhi perkataanmu.
biasanya, saat hujan turun kamu selalu menemukan alasan untuk tidak makan. dan akulah yang dengan senang hati membawakanmu hidangan untuk disantap. kamu selalu membalasnya dengan pelukan dan ucapan terimakasih.
biasanya.
hingga di tengah suatu hujan, kamu berkata bahwa aku tak pernah beranjak dewasa. katamu, aku terlalu meminta waktumu. katamu, aku terlalu memanjakanmu. katamu pula, aku membuatmu mengorbankan banyak hal-hal berarti. katamu, aku membuatmu terjebak di dunia anak-anak.
saat itu adalah hujan yang tidak biasanya.
entah sudah berapa musim hujan berlalu sejak itu. aku ingat betul aku menangisimu bermalam-malam. suara tangisanku tertelan oleh gemuruh dan derasnya hujan. kamu bahkan tak pernah tahu, hingga hari ini.
sampai siang ini, aku menemukan sebuah amplop tergeletak di depan kamarku. dan namamu tertera di amplop itu.
lihat, dirimu akan segera menikah dengan wanita yang mungkin kamu idam-idamkan selama ini. wanita yang elegan dan dewasa. wanita yang membimbingmu tumbuh menjadi laki-laki dewasa. wanita yang membuatmu mengejar dan melamarnya.
kini ku tahu, hujan esok hari akan terasa berbeda. tangisku tak akan lagi pecah. renunganku tentangmu akan hanyut perlahan-lahan, seiring dengan derasnya hujan.
semoga kamu berbahagia bersamanya, di musim hujan ini.

No comments:
Post a Comment
if you have any comment or suggestion, please kindly to write it below: