hai, kita sedang bernasib sama. hanya saja, mungkin kita berada di tahapan yang berbeda. aku baru saja memulai perjalananku menuju berlembar lembar kertas tersebut. mungkin kalian sudah pada tahap pertengahan, atau sudah ada yang hendak mencapai garis finish.
sewaktu masih mengambil kelas kuliah, aku tak pernah berpikir bahwa mengerjakan skripsi seberat ini. susah, menghabiskan tenaga dan pikiran, menguras emosi, dan banyak rintangan lainnya. sekarang aku sudah menginjak semester 8, dan tidak ada progress yang berarti. sedikit merenung kenapa aku berlagak tidak memikirkan skripsi dari semester kemarin.
bukan maksud hati ingin cepat hengkang dari kampus, tapi orang tua sudah mulai memikirkan biaya jika aku terlalu lama berstatus mahasiswa. aku paham sekali akan pemikiran mereka, dan itu wajar. aku bukan satu-satunya anak yang harus mereka biayai. ah, sedih rasanya jika masih harus memberatkan mereka, di saat seharusnya aku sudah bisa hidup mandiri *tahan air mata*.

setelah melangkah sedikit demi sedikit, aku harus kembali mengulang dari awal. barulah kusadari kenapa kata revisi itu terasa menyakitkan. kalau revisi minor sih tidak apa apa. kalau revisi mayor dan harus merombak apa yang telah kita baca, renung dan tulis? it hurts deeply.. seriously. mengubah pola pikir itu jauh lebih sulit dari apa yang aku bayangkan. berkutat dengan permasalahan baru, dituntut untuk membaca lebih banyak referensi sementara tuntutan lulus semakin terasa, membuat kepala sukses berdenyut-denyut.
setelah sekian hari berusaha dan merenung, I got nothing. rasa frustasi muncul dari sudut kecil di hati, dan perlahan-lahan merenggut semangat yang tadinya berhasil dikibarkan kembali. di saat seperti ini, hal yang tepat untuk dilakukan adalah mencoba beralih kegiatan dan bercerita pada orang terdekat. it does make me feel better.
skripsi itu relatif. sangat bergantung kepada bagaimana dirimu, apa jurusanmu, bagaimana birokrasi di kampusmu, bagaimana pola dosenmu membimbingmu (I should admit that the last factor tends to be most influencing one). yap. menjustifikasi skripsi berarti membodohi diri sendiri. walaupun, aku tetap takjub dengan teman-teman seangkatan yang kemarin sudah wisuda. I admire their spirit and big will in doing this last-tiring-task-as-college-student. still, masih ada hal-hal yang bisa kamu ambil hikmahnya dari mereka yang telah berhasil menyelesaikan skripsi.
bukan skripsi namanya kalau nggak berjuang mati-matian. semangatlah bagi kita yang sedang mengerjakan skripsi!
setujuu deh sama tulisan kamu :))
ReplyDeleteny the way, nii Yayi temennya Hima yaa??
Salam :))