Saturday, June 9, 2012

harapan

terkadang aku berpikir. memikirkan dirimu yang kini berjalan di sisiku. apakah benar kau yang ku inginkan? apakah benar kau yang selalu membuatku bersemangat di pagi hari? yang membuatku menebar senyum selaras irama langkah?
jika boleh aku berkata jujur, tidak kurasakan apa yang dulu aku rasakan. semua berjalan biasa saja. tidak ada lagi kejutan. tidak ada sesuatu yang istimewa. tidak ada luapan kegembiraan dalam hati. goresan abulah yang mewarnai, bukan warna warni seperti dulu. datar. ya, mungkin itu dia. maaf jika ini terlalu menyakiti.
pasti kamu akan mengatakan aku meragu. bukan, aku bukan meragu. aku merasa kebal. kebal akan perasaan-perasaan lugu yang dulu menghampiri. tidak aneh jika kau mengatakan sayang. tidak kaget ketika kau meletakkan bunga di depan kamarku. sudah kubilang, tidak ada lagi kejutan. aku seolah mati rasa.
namun kumohon kau jangan berburuk sangka. bukan berarti aku tak memiliki rasa. aku hanya sedang menjalani semua dengan logika. menegaskan kembali bahwa apapun yang terjadi, itu tak salah. tak salah, bukan berarti benar. tidak menyalahkan atas pertengkaran yang terjadi. tidak memadamkan api amarah yang menyulut. tidak membendung air mata. tidak, sama sekali tidak. membiarkan semua terjadi begitu saja.
tersakiti? entah sudah yang kesekian kalinya, sejak aku mengenal suatu hal yang bernama perasaan. perasaan sayang. tak heran bukan jika kini aku menjadi kebal? aku hanya akan menangis sejenak, lalu kembali tersenyum. mungkin senyumku memang sedikit rapuh. tapi toh aku tetap bisa menjalani hariku seperti sedia kala. tidak ada yang harus dirubah. let it be, let it be.

harapan adalah satu formula yang mampu membuat kita jatuh berkeping-keping. mengapa mereka sedih ketika mereka berpisah dengan sang kekasih? mengapa seseorang begitu terluka ketika perasaannya tak sejalan dengan makhluk yang dicintainya? jawabannya hanya karena harapan. kita begitu berharap bahwa ia takkan pernah meninggalkan kita. dia begitu berharap jikalau perasaannya akan mendapat sambutan hangat dari pujaannya. sayangnya, manusia tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
beberapa kali aku terjatuh akan harapan. berharap ia mampu menggandeng tanganku selamanya, atau berharap bahwa ia mengerti aku apa adanya. namun toh ternyata sia-sia. apa yang aku harapkan tidak tercapai. kini, aku sudah enggan berharap. untuk apa? hanya menyakiti hati saja.
padahal aku tahu betul bahwa harapanlah yang mewarnai hari-hari kita. membuat kita melakukan segala sesuatunya yang terbaik. tanpa harapan, mungkin hambar terasa. ya, seperti sekarang. semua biasa saja.

maafkan aku. bukan berarti aku tidak menyayangimu. aku hanya tidak berharap lebih. aku tak ingin merasakan sakit yang kesekian kalinya. maaf. aku sedang meninggikan logika dibandingkan dengan perasaan yang begitu rapuh. tapi aku hanya ingin kau mengerti, aku menyayangimu dengan caraku. dengan cara yang berbasis pada logika. dengan semua yang aku miliki. apapun itu, aku menyayangimu. menyayangi tanpa berharap.

No comments:

Post a Comment

if you have any comment or suggestion, please kindly to write it below: