aku selalu mengamatinya. anak perempuan yang manis, baik hati dan rajin berdoa.
rasanya tiada duka yang menghampirinya. semua orang memujanya, menyayanginya.
lelaki mana yang tak luluh dihadapannya, jika ia selalu tersenyum ceria seperti itu? ya, dia sempurna. hidupnya seolah tanpa cacat.
hapal betul aku kebiasaan perempuan itu. aku tahu setiap pagi dia hendak kemana, hapal betul apa saja yang akan dilakukannya setiap hari.
hingga suatu saat, aku melihatnya tidak melalu jalan yang biasa ia lalui. penasaran, aku mengikutinya.
oh rupanya ia tengah mengejar kupu-kupu hitam di hadapannya. sepertinya ia tak sadar ia telah melangkah jauh.
aku masih mengikutinya dalam diam. ia tampak celingukan, namun toh akhirnya ia tetap melangkah dan justru melangkah riang. apa yang ia lihat? apa yang ia kejar? kupu-kupu hitam itu tak nampak lagi sejatinya.
barulah aku menyadari aku seperti berada dalam dunia impian anak-anak. di kejauhan aku melihat bukit hijau yang tertutup pohon-pohon asri. bunga bermekaran sana sini. bahkan ternyata aku tengah dikelilingi hutan hujan. wah, tempat apa ini?
perempuan manis itu terus melangkah hingga akhirnya ia berhenti di depan telaga. telaga yang bening sekali. sepertinya ia tengah mengamati cerminannya di telaga itu. aku tersenyum, memikirkan betapa beruntungnya ia bisa melihat refleksi cantik di hadapannya.
namun tiba-tiba ia berteriak kencang dan menangis. aku tersentak. aku hendak menghampirinya, namun ia sudah terlebih dahulu berlari ke arahku. ia menabrakku, terjatuh, bangkit lagi dan terus berlari. bahkan ia tak peduli pada diriku yang mengikutinya. ah, apa yang ia lihat? ingin aku ke telaga itu, tapi kuurungkan niatku. bulu kudukku merinding. aku bergegas berlari pulang.
sama seperti hari kemarin, kulihat perempuan itu melangkah ke tempat kemarin. kuikuti dia kembali. dan sama seperti kemarin.. dia berteriak ketika melihat sesuatu di telaga. bergegas aku berlari menghampirinya.
kuraih bahu perempuan itu dan ah! sekilas aku melihat sosok perempuan buruk rupa di telaga itu. aku terkesiap. siapa dia? tidak mungkin ia cerminan perempuan manis ini. aku memeluk perempuan itu untuk menenangkannya. ia menangis tersedu-sedu.
"itu bukan bayanganku, bukan. aku tidak seburuk itu.." ucapnya lirih.
aku mengangguk. tentu saja itu benar. aku mencium keningnya agar ia merasa nyaman. lalu ia mendongakkan wajahnya, melihat wajahku.
seketika ia mendorongku hingga terjungkal dan menangis keras.
"kau... kau perempuan buruk yang kulihat di telaga ini! apa maumu? apa maksudmu mengejutkan aku?"
kali ini giliranku terkesiap. aku, di telaga ini? wajahku kah yang ia lihat tadi? tidak mungkin! jeritku dalam hati.
perempuan itu berjalan mundur untuk menghindariku, namun malang, ia terpleset dan jatuh ke telaga itu. aku jatuh terduduk dan menangis. apa maksud semua ini? apa yang terjadi?
belum pulih dari kebingunganku, refleksi diriku perlahan terbentuk di telaga itu. aku kembali terkejut. itu sosok yang kulihat sekilas tadi ketika perempuan itu bercermin. aih, wajahnya buruk sekali. luka di mana-mana, dan cacat entah mengapa. menjijikkan.
lalu kenapa ia menjadi refleksiku sekarang? bukankah ia refleksi anak perempuan tadi? memberanikan diri, aku memperhatikan refleksi itu dengan sesama...
deg. jantungku seakan berhenti berdetak. dadaku rasanya sesak. aku sangat mengenali wajah di telaga itu. itu aku, ya itu aku! hanya saja dalam keadaan cacat dan terluka. kepalaku terasa pening dan berat.
sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, wajah itu tersenyum sinis padaku.
No comments:
Post a Comment
if you have any comment or suggestion, please kindly to write it below: