a film by Salman Aristo
saya harus berterima kasih pada salah satu event film internasional yakni Jogjakarta-Asean Film Festival (JAFF) 2011 kemarin karena telah mengenalkan saya kepada sebuah karya seni yang simpel, namun begitu nyata. sebuah karya cantik oleh Salman Aristo; Jakarta Maghrib.
Jakarta Maghrib adalah sebuah omnibus yang terdiri atas empat cerita. tetapi, saya tidak akan membahas sinopsis Jakarta Maghrib di sini.
yang saya ingin sampaikan adalah bahwa saya sungguh menggemari film omnibus arahan Salman Aristo. setelah dibuat terkagum-kagum oleh Jakarta Maghrib, kali ini Salman Aristo kembali membuat saya semakin menggemari karyanya, dengan menghadirkan Jakarta Hati terhitung sejak awal November kemarin.
tetapi (lagi), saya tidak akan membahas sinopsis Jakarta Hati di sini. saya hanya ingin menyampaikan beberapa komentar mengenai film ini.
yang menarik perhatian saya pertama kali adalah Salman Aristo kembali mengangkat Jakarta sebagai domain utama dari film ini. mungkin, Salman Aristo adalah seseorang yang paham bahwa kehidupan Jakarta menyimpan berbagai cerita yang layak untuk difilmkan. dan tentunya, ia adalah seseorang yang sangat kreatif dalam membuat film ini dari segi cerita.
saya menyukai ide-idenya untuk memfilmkan kisah-kisah yang simpel, tidak bercerita dalam setting waktu berhari-hari, namun penuh makna. ia tidak menampilkan pesan ceritanya secara eksplisit. Salman Aristo sungguh membuat kita memutar otak untuk menebak akhirnya, ceritanya atau pesan yang ingin disampaikan. by the way, banyak sekali pelajaran moral yang dapat kita ambil dari enam cerita di Jakarta Hati ini.
Omnibus Salman Aristo kali ini terdiri dari Orang Lain, Masih Ada, Hadiah, Kabar Baik, Dalam Gelap dan Darling Fatimah. cerita favorit saya adalah Orang lain dan Dalam Gelap. sungguh, Orang Lain ini mampu membuat kita berpikir kembali permasalahan mengenai sikap kita dalam suatu hubungan asmara. dan untuk Dalam Gelap, entahlah, I just love to watch it. atau mungkin saya menyukainya karena cerita ini disajikan dalam satu scene tanpa cut, sama seperti Menunggu Aki di Jakarta Maghrib. atau mungkin karena ceritanya yang lumayan menohok.
seperti yang telah saya ungkapkan di awal, ide cerita di kedua film ini sangat nyata dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. inilah yang membuat saya menyukai karyanya, karena pesannya yang cukup mengena bahkan menohok di hati.
film Jakarta Hati ini sangat recommended!
(sejujurnya saya sedih ketika saya menonton di Cinema 21 tadi. bangku yang terisi hanya 20 dari jumlah bangku yang ada. padahal karya Salman Aristo ini sungguh layak untuk ditonton; unik, bernilai dan tentunya tidak sembarangan)

No comments:
Post a Comment
if you have any comment or suggestion, please kindly to write it below: